ATLETICO MADRID VS BAYERN MUNICH

 

Atletico Madrid melanjutkan rekor apiknya ketika bertemu Bayern Munich. Dalam laga yang digelar di Vicente Calderon, Kamis ( dini hari WIB, Atletico mengalahkan Bayern dengan skor 1-0 lewat gol yang dicetak oleh pemain asal Belgia, Yannick-Ferreira Carrasco, pada menit ke-35.

Hasil tidak memuaskan di laga ini membuat Bayern terpaksa mengakhiri tren istimewa yang mereka buat di awal musim, yakni rekor kemenangan 100% dalam delapan laga resmi. Sementara bagi Atletico, kemenangan ini membuat mereka kian percaya diri karena kini telah menjalani tujuh pertandingan tanpa kekalahan.

Atletico Andalkan Serangan Cepat

Tak bisa dipungkiri, secara individu pemain Atletico jelas kalah kualitas ketimbang Bayern yang dipenuhi nama-nama berkualitas di setiap posisi. Kondisi tersebut membuat pelatih Atletico Diego Simeone berusaha memanfaatkan satu-satunya keunggulan yang dimiliki oleh kesebelasannya di laga ini: memanfaatkan lambatnya bek tengah lawan.

Di laga ini, Atletico mengandalkan formasi 4-4-2 sebagai bentuk dasar, 4-3-3 sebagai formasi saat menyerang, dan 4-2-3-1 saat bertahan. Keberadaan dua gelandang sayap, Carrasco dan Saul Niguez, menjadi kunci formasi ini.

Pressing menjadi salah satu cara Atletico untuk membuat lawan tidak nyaman ketika membawa bola. Ketika kondisi tersebut sudah didapatkan, pemain Atletico akan dengan mudah melakukan serangan balik cepat yang diinisiasi oleh tiga pemain, Fernando Torres, Antoine Griezmann, dan Carrasco.

Pilihan Simeone untuk memanfaatkan tiga pemain tersebut pada akhirnya kerap menjadi senjata yang mematikan untuk Atletico. Kepiawaian Torres dalam memanfaatkan ruang ditambah kecepatan Griezmann dan Carrasco, membuat Bayern terpaksa menugaskan Xabi Alonso untuk tidak bermain di dekat dua bek tengah, Jerome Boateng dan Javi Martinez.
Namun demikian, pressing yang diterapkan oleh ketiga pemain ini membuat pemain Bayern tetap melakukan kesalahan elementer. Pertandingan baru berjalan 11 menit, Torres hampir mencetak gol. Berawal dari kesalahan kontrol bola Javi Martinez, Torres tinggal berhadapan dengan Manuel Neuer. Beruntung bagi Bayern, peluang tersebut gagal berbuah menjadi gol setelah gocekan eks penyerang Chelsea tersebut berhasil diantisipasi oleh Martinez.

Selang 22 menit setelah peluang tersebut, Neuer akhirnya harus rela memungut bola dari gawangnya. Berawal dari pergerakan Griezmann, bola gagal disapu dengan baik oleh Alonso dan justru malah mengenai Carrasco. Carrasco yang tak terkawal pun melakukan sebuah dribel yang dilanjutkan dengan sepakan mendatar ke tiang jauh, yang berhasil membuahkan gol untuk Atletico.

Penjagaan Super Ketat Atletico kepada Lewandowski dan Mueller

Penampilan baik Robert Lewandowski dalam sembilan pertandingan yang sudah ia jalani bersama Bayern di awal musim ini menjadi ketakutan utama Diego Simeone. Tak ingin Lewandowski menjadi andalan utama Bayern untuk mencetak gol, Simeone menerapkan penjagaan super ketat untuk eks pemain Borussia Dortmund ini.

Kondisi tersebut tak pelak membuat Lewandowski begitu sulit menjalankan perannya sebagai mesin pencetak gol utama Bayern. Situasi bertambah sulit mana kala Thomas Mueller tak dapat memerankan tugasnya sebagai penyuplai bola dengan baik.

Penjagaan super ketat, ditambah gaya bertahan yang begitu dalam serta pendekatan untuk menutup ruang kosong yang dilakukan oleh Atletico menjadi hal yang menyebabkan kedua pemain ini begitu jarang mendapatkan bola.

Secara bergantian dua pemain belakang Atletico, Stefan Savic dan Diego Godin, menjalankan tugasnya untuk melakukan pressing serta penjagaan individual untuk menutup Lewandowski. Whoscored mencatat, Lewandowski di laga ini hanya mampu membuat 31 sentuhan terhadap bola.

Hal yang sama juga terjadi kepada Mueller. Dalam laga ini, ia tak sedominan biasanya. Tidak ada pergerakan tanpa bola dari Mueller yang sering membuat lawan terkejut.

Kurang baiknya penampilan Mueller di laga ini terjadi akibat pergerakannya yang seringkali berada di area penjagaan pemain Atletico, terutama di depan kotak penalti. Banyaknya pemain Atletico yang berada di depan kotak penalti membuatnya seringkali berada dalam posisi tidak menguntungkan.

Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya pemain Bayern yang mengisi ruang kosong di depan kotak penalti Atletico. Franck Ribery lebih sering menyisir sayap, sementara Thiago Alcantara kerap berdiri sejajar dengan Xabi Alonso ketika Bayern sedang mengendalikan permainan.

Kedua pemain tersebut pada akhirnya menjadi pemain yang paling sedikit mendapatkan bola jika dibandingkan semua pemain Bayern yang memulai pertandingan dari menit pertama.

Minimnya Support Buat Sisi Kanan Bayern

Dalam formasi dasar, Bayern menggunakan formasi 4-3-3 dengan memainkan Ribery serta Mueller untuk mengisi pos sayap kiri dan kanan.

Namun, di lapangan situasi benar-benar berbeda. Hanya Ribery yang menjalankan tugasnya untuk menyisir sisi lapangan, sementara Mueller tidak. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Mueller lebih sering berada di depan kotak penalti Atletico ketimbang berada di sayap kanan.

Keberadaan Mueller memang menguntungkan dari sisi penyerangan, yang mana membuat pemain Bayern di kotak penalti Atletico lebih banyak. Namun dari sisi pertahanan, kondisi tersebut justru malah merugikan karena membuat Philipp Lahm tampak bekerja sendirian.

Lahm tidak hanya ditugaskan untuk menutup pergerakan Carrasco di sisi kiri tapi juga Filipe Luis yang begitu aktif membantu Carrasco. Minimnya bantuan kepada Lahm membuat Atletico begitu aktif menyerang lewat sisi kanan pertahanan Bayern.

Sepanjang jalannya babak pertama, Atletico menggunakan dua sisi sayap untuk menyerang. Namun sulitnya mereka menembus sisi kiri Bayern yang diisi oleh Ribery dan David Alaba, membuat Atletico memfokuskan serangannya ke sisi kanan Bayern di babak kedua.

Perubahan ini Mungkin berhasil. Beberapa peluang emas bahkan beberapa kali didapatkan oleh Atletico memanfaatkan sisi kanan Bayern yang minim pemain. Salah satu peluang emas yang didapatkan adalah saat Filipe Luis yang mampu masuk hingga kotak penalti Bayern dan dilanggar oleh Arturo Vidal. Namun sepakan penalti Antoine Griezmann gagal menjadi gol setelah mengenai mistar.

Perubahan sejatinya sudah dilakukan oleh Carlo Ancelotti di babak kedua ketika mengganti Mueller dengan Arjen Robben. Masuknya Robben sempat membuat pendukung Bayern memiliki harapan. Tapi pada akhirnya, keberadaan Robben tidak menghasilkan apa-apa bagi anak asuh Carlo Ancelotti tersebut.
Kesimpulan

Bagi Atletico,untuk  kemenangan di laga ini membuktikan bahwa mereka mampu memanfaatkan gaya pragmatis yang mereka usung dengan baik. Tak perlu ada permainan indah dan menghibur untuk meraih kemenangan.

Hal sebaliknya terjadi pada Bayern. Permainan menyerang dan menghibur yang mereka terapkan nyatanya tidak cukup ampuh ketika menghadapi tim yang mengandalkan pertahanan kokoh dan serangan balik cepat.

Ketergantungan Bayern akan sosok Thomas Mueller dan Robert Lewandowski juga menjadi persoalan. Pasalnya, dalam laga ini, minimnya peran kedua pemain tersebut secara tidak langsung menjadi persoalan besar bagi Bayern untuk mencetak gol.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s