BERITA BOLA | TIMNAS INDONESIA SIAP DI PIALA AFF 2016

ALFRED RIEDL AKHIRNYA SUKSES DUPLIKASI TAKTIK DIEGO SIMEONE

Timnas Indonesia sukses memainkan debut perdana pasca sanksi FIFA dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Malaysia. Boaz Solossa dkk. yang dipersiapkan untuk pergelaran AFF 2016 tampil dengan banyak muka-muka baru. Kepada pembaca Bola.com, KickOff! Indonesia menyajikan ulasan taktik permainan Timnas Indonesia dan juga kubu lawan.  Banyak pemain belia, minim pengalaman bertanding di level timnas senior di skuat utama Tim Merah-Putih saat berhadapan dengan Tim Negeri Jiran. Mereka bisa dibilang memberi warna baru untuk Timnas Garuda.

Hanya saja meski menang dengan skor telak, Timnas Indonesia masih belum terlalu teruji. Buruknya permainan Malaysia membuat laga persahabatan ini belum dapat dijadikan tolok ukur terlalu jauh.

Di samping itu, timnas juga belum tampil dengan skuad utuh akibat pembatasan dua pemain per klub. Alfred Riedl tak bisa leluasa melibatkan pemain-pemain yang benar-benar diinginkannya. Alfred Riedl seperti biasa tampil dengan formasi 1-4-4-2. Andritany Ardhyasa mengawal gawang bersama kuartet Rahman, Fahruddin, Yanto dan Benny. Duet lini tengah ditopang oleh Evan Dimas dan Bayu Pradana, didampingi Zulham Zamrun di kiri dan Andik di kanan. Boaz Solossa berduet dengan Irfan Bachdim di barisan depan.
Sementara itu, Malaysia sendiri memainkan skema 1-4-3-3. Khairul Fahmi menjadi palang pintu terakhir menopang back four: Badrul Hisyam Azrif, Fadhli Sas, Ronny Harun, dan Matthew Davies.

Trio lini tengah diisi oleh Brendan Gan, Irfan Fazali, dan Baddrol Bakhtiar yang banyak beroperasi di lini serang. Wan Zack Haikal dan Safawi Rasyid menopang Amri Yahya yang bermain sebagai juru gedor di depan.Secara natural, pertemuan strategi antara 1-4-4-2 dengan 1-4-3-3 memunculkan sejumlah hal menarik untuk dibahas.
Pertama, bagaimana timnas Malaysia harus membangun serangan dalam situasi natural 4 Vs 4 di bawah, di mana back four Malaysia akan memiliki direct opponent yakni seorang striker Malaysia dan dua winger Indonesia.Kedua, adalah bagaimana Indonesia harus mengatasi situasi duel 2 Vs 3 di area sentral lini tengah. Logikanya Evan Dimas dan Bayu Pradana harus mengatasi trio Brendan, Irfan, dan Baddrol. Menyangkut hal pertama, Malaysia benar-benar mengalami petaka. Tampak sekali dalam gim uji coba, Ong Kim Swee memang berencana untuk melakukan build up yang konstruktif dengan passing pendek dari lini ke lini. Hal ini terlihat dari selalu melebarnya Fadhli dan Ronny untuk menciptakan width saat menguasai bola.
Hanya saja, Tim Harimau Malaysia terlihat kebingungan untuk membongkar blok medium yang diperagakan oleh dua sayap dan dua striker Indonesia. Ada beberapa usaha yang coba dilakukan Malaysia untuk memprogresi bola ke lini berikut. Brendan turun mendekati duet Fadhli-Ronny. Sayang gerakan Fahli seperti tanggung. Ia seperti hanya ingin menjadi pilihan passing diagonal bagi stopper. Faktanya, hal itu tak terjadi mengingat salah satu gelandang Indonesia selalu mengikutinya.

Meski terjadi duel 2 Vs 1 di gelandang serang dengan tertariknya satu gelandang Indonesia, tetapi keberadaan dua pemain tengah Malaysia lain tak terakses.
Cara lain yang dilakukan Tim Negeri Jiran ini adalah memaksimalkan wide rotation di sebelah kiri, di mana Safawi masuk ke tengah, Azrif agak naik, lalu Irfan turun ke halfspace sebelah kiri. Ini membuat Fadhli memiliki pilihan free di sebelah kiri sebagai koneksi untuk progresi ke depan. Hanya saja cara ini mentah akibat begitu baiknya timnas kita mengorganisir pertahanan blok medium. Zulham dan Andik sebagai sayap di sisi jauh lapangan (ball far winger) juga sangat disiplin untuk ikut masuk ke dalam saat Malaysia memainkan bola di sisi lapangan berlainan. Organisasi pertahanan blok medium Indonesia patut diacungi jempol. Pada levelnya, organisasi 1-4-4-2 Alfred Riedl menyerupai strategi Diego Simeone di Atletico Madrid. Begitu kompak, begitu padat, dengan intensitas pergeseran dan pressing yang pas.Tak heran Tim Merah-Putih sukses mencetak dua gol awal dari situasi ini. Memang bek Malaysia melakukan blunder, tetapi kesalahan tersebut tak lain adalah kesuksesan blok pertahanan medium timnas memaksa lawan berbuat salah.
Anehnya, pertahanan blok medium rapi tidak diikuti saat melakukan blok pertahanan rendah. Selepas gol kedua apalagi ketiga, Timnas Indonesia memelorotkan blok pertahanannya menjadi lebih rendah.

Kerapatan pertahanan malah hilang. Ball far winger di sisi jauh lapangan sering sekali tidak masuk ke tengah. Mereka malah cenderung turun lebih ke dalam hampir segaris dengan fullback. Untung saja, positioning pemain Malaysia amat buruk dalam menyerang. Mereka gagal mengeksploitasi ruang di belakang atau di depan back four Tim Garuda.
Kehebatan Indonesia dalam mengorganisir pertahanan blok medium juga tidak terjadi saat Boaz Solossa cs. menguasai bola. Boleh dibilang kedua tim yang berlaga di Stadion Manahan semalam adalah dua tim yang gagap dalam menyerang.Saat memulai serangan, Alfred Riedl terjebak pada problem klasik sepak bola Indonesia, di mana kedua stoper tidak pernah digunakan untuk memprogresi serangan ke depan.Konsekuensinya, timnas sangat bertumpu pada Evan Dimas dan Bayu Pradana. Keduanya harus turun jauh ke bawah untuk menjemput bola dan memprogresi serangan. Turunnya dua gelandang tentu membuat timnas kehilangan koneksi progresi di lini berikutnya.

Beberapa kali Timnas Indonesia bisa memprogresi lewat Zulham Zamrun atau Andik Vermansah yang masuk ke tengah. Sayang, di saat kedua sayap sudah masuk ke tengah, Abdul Rahman dan Benny Wahyudi kurang aktif untuk naik menjaga sisi lebar di depan.Bedanya dengan Malaysia, Timnas Indonesia kita tak mau ambil risiko saat melakukan build up. Jika Malaysia berusaha “belajar” untuk membangun serangan secara kontruktif dengan operan pendek dari lini ke lini, maka Fachruddin dkk. cenderung mainkan long ball langsung ke depan.Memang Malaysia belum berhasil menemukan solusi semalam, tetapi usaha mereka untuk terus mencari kemungkinan progresi layak diapresiasi. Meski konsekuensinya, mereka harus rela menderita akibat dua gol mudah di awal pertandingan.
Isu bahasan pertama tumbukan 1-4-4-2 vs 1-4-3-3 di laga ini adalah situasi 2 Vs 2 (4 Vs 4) di lini belakang Malaysia saat fase build up. Jelas di fase ini timnas Malaysia gagal mencari solusi yang tepat untuk keluar dari situasi ini. Tak heran pada situasi ini pulalah Malaysia justru melakukan blunder yang berakibat pada kebobolan mudah.Sebaliknya Timnas Indonesia berhasil menemukan solusi tepat pada isu kalah jumlah pemain 2 Vs 3 di area tengah, yaitu dengan pertahanan blok medium yang begitu rapat. Boaz Solossa dan Irfan Bachdim dengan sabar tidak melakukan pressing agresif ke dua stoper Malaysia. Keduanya fokus berdiri menutup jalur passing ke depan dengan baik. Zulham Zamrun dan Andik Vermansah juga senantiasa masuk merapat ke tengah saat serangan terjadi di sisi lapangan yang lain. Sehingga situasi natural 2 Vs 3 di tengah tak pernah benar-benar terjadi.
Hasil positif ini harus disikapi bijak oleh staf pelatih, PSSI, dan publik sepak bola Tanah Air. Terlalu dini untuk menyimpulkan kualitas timnas yang sebenarnya dari laga uji coba semalam. Malaysia tampil begitu buruk dengan intensitas sirkulasi bola dan pressing lamban.Bahkan dengan lawan buruk sekalipun, Tim Merah-Putih masih bermasalah dengan pertahanan blok rendah dan saat membangun serangan. Mudah-mudahan dengan berjalannya waktu plus skuad yang lebih lengkap, Timnas Indonesia akan tampil lebih baik di Piala AFF 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s